• 8

    Jan

    BLUSUKAN sambil NGANGKANG

    Saat ini hampir semua orang tahu, terutama yang aktif di media sosial, apa itu yang dimaksud dengan kata blusukan, terutama sejak mantan gubernur DKI Sutiyoso berbicara di media mengingatkan gubernur DKI Joko Widodo agar sudah saatnya action dan mulai mengurangi aktivitas blusukan-nya. Kini memang blusukan sudah menjelma menjadi istilah keren untuk menguraikan sebuah aktivitas pejabat yang mengunjungi masyarakat kelas bawah tanpa batasan formalitas. Aktivitasnya pun sepertinya juga ikut-ikutan ngetren, sampai-sampai banyak yang saling klaim siapa yang lebih dulu melakukan kebiasaan blusukan. Kita tidak akan menemukan kata blusukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karena memang merupakan bahasa Jawa. Apakah artinya memang sama seperti yang dilakukan Jokowi? Kata dasarnya adalah b
  • 6

    Nov

    Semoga tulisan pak Anton diperhatikan pemerintah

    Meski Kompas sudah sejak awal menggunakan kata ‘Rembuk Nasional’ untuk menggantikan National Summit, tapi belum membahas secara khusus hingga akhirnya pada terbitan Jumat 6 November 2009 khusus dibahas di kolom ‘Bahasa’. Adalah Anton Moeliono, yang dikenal sangat disiplin dalam soal bahasa (karena dulu penulis sempat menjadi mahasiswa beliau :D), yang akhirnya tergelitik untuk membahasnya. Sejalan dengan yang telah ditulis di blog ini tentang Pelanggaran pasal 28 UU No.24 - 2009 oleh Presiden, pak Anton juga menulis tentang pelanggaran pasal 32 tentang kewajiban penggunaan bahasa Indonesia di forum nasional. Untuk lebih lengkapnya silakan baca tulisannya yang diambil dari sini (situs kompas cetak). “National Summit”? Jumat, 6 November 2009 | 03:20 WI
  • 27

    Feb

    Diskusi Bedah KBBI Edisi 4

    dari KilasBerita.com KBBI Edisi 4 Lebih Tebal Lebih Membingungkan Dari tiga edisi yang telah disusun sebelumnya, dalam diskusi Bedah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa Edisi Keempat, Meiti Takdir Kodratillah, dari tim Pusat Bahasa Indonesia menyatakan terdapat banyak perbedaan dalam KBBI edisi keempat ini dibandingkan dengan kamus edisi-edisi sebelumnya. “KBBI edisi keempat berbeda dengan KBBI edisi sebelumnya,” terang Meiti dalam acara diskusi di gedung Bentara Budaya, Palmerah, Jakarta, Selasa (24/2/2009). Meiti menyebutkan perbedaan yang terdapat dalam kamus tersebut yaitu: 1) penambahan lema dan sublema yang semula berjumlah sekitar 78.000, kini bertambah menjadi sekitar 90.000 lema. Penambahan itu meliputi kosakata baru, baik yang bersifat umum maupun yang b
-

Author

Follow Me