KNKT, Golongan Menengah, dan Ketidaklulusan Siswa

25 May 2012

d62eb10d69db3ca421ee0b764c5a00a3_knkt

Pagi-pagi “sarapan” koran kertas (’kertas’ di sini perlu ditekankan karena makin banyaknya koran digital saat ini) Kompas di hari Jumat 25 Mei 2012 ini ternyata ada 3 pembahasan tentang bahasa Indonesia yang cukup penting juga untuk diangkat di sini. Bahasan bahasa pertama ada di bagian surat pembaca, di mana ada seorang pembaca yang mempertanyakan tentang singkatan KNKT yang sedang sering disebut-sebut terkait kasus kecelakaan SSJ100, nah bagaimana kisahnya? Mari kita pindah paragraf. :)

Pembaca bernama Bapak Hasibuan itu mempertanyakan kepanjangan dari KNKT yaitu Komite Nasional Keselamatan Transportasi yang menurut beliau menyalahi aturan bahasa Indonesia yang berkaidah DM (Diterangkan Menerangkan), apalagi setelah melihat terjemahannya dalam English: National Transportation Safety Committee. Menurut pengirim surat pembaca dari Medan itu bahwa seharusnya susunan yang sesuai adalah Komite Keselamatan Transportasi Nasional (KKTN). Nah, di sini kita diingatkan untuk tidak sembarangan membuat singkatan.

Berikutnya tentang istilah ‘golongan menengah’. Kali ini Andr Mller seorang ahli bahasa Indonesia berkebangsaan Swedia di Rubrik Bahasa halaman 15, membahas tentang bagaimana bisa muncul istilah tersebut. Seperti kita tahu selain golongan menengah, juga ada istilah ‘golongan atas’ dan ‘golongan bawah’. Nah ini yang jadi masalah, seharusnya ‘golongan menengah’ menjadi ‘golongan tengah’ seperti yang diusulkan penulis rubrik. Penyusun kamus Swedia-Indonesia itu juga menulis bahwa jika ada ‘golongan menengah’, seharusnya ada “golongan mengatas” dan “golongan merendah”. Hehe, benar juga ya mister Moller, meskipun istilah ‘golongan menengah’ ini tidak salah dalam arti kata, tapi ketika disandingkan dengan kawan-kawannya golongan yang lain jadi tidak sesuai kaidah, belum lagi ketika ada istilah turunannya ‘golongan menengah atas’ dan ‘golongan menengah bawah’, nah loh bagaimana pula itu?

Pembahasan terakhir cukup memprihatinkan, yaitu didapat dari Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang mayoritas kegagalan siswa SMA pada ujian nasional tahun ini ada pada Bahasa Indonesia dan Matematika. Rata-rata mereka yang gagal tersebut justru merupakan pelajar di perkotaan. Ini sebenarnya sudah bukan hal baru, tahun lalu pun mata pelajaran Bahasa Indonesia juga sukses jadi pengganjal kelulusan para siswa. Entah apa yang salah dengan pelajaran ini? Apa karena bahasa yang setiap hari digunakan sehingga justru dianggap tidak terlalu penting? Memang sudah sejak dulu para siswa banyak yang menganggap enteng pelajaran Bahasa Indonesia, bahkan beberapa juga bilang membosankan.

Repot juga ya kalau begitu ceritanya. Bahasa Indonesia tidak lagi dianggap penting, sepertinya bahasa Inggris buat mereka jauh lebih penting. Mereka tidak sadar akibatnya jika bahasa persatuan ini tidak ada. Bagaimana sulitnya berkomunikasi dengan bermacam-macam suku dengan bahasanya sendiri-sendiri. Sementara sekarang ini salah satu unsur penting yang masih menyatukan setiap suku bangsa di republik ini karena adanya bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Bayangkan jika mereka tidak berbahasa Indonesia, masing-masing punya bahasa sendiri, dan bisa jadi alasan jitu untuk memisahkan diri dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).


TAGS knkt komite nasional keselamatan transportasi andre moller kaidah DM


-

Author

Follow Me