BLUSUKAN sambil NGANGKANG

Saat ini hampir semua orang tahu, terutama yang aktif di media sosial, apa itu yang dimaksud dengan kata blusukan, terutama sejak mantan gubernur DKI Sutiyoso berbicara di media mengingatkan gubernur DKI Joko Widodo agar sudah saatnya action dan mulai mengurangi aktivitas blusukan-nya. Kini memang blusukan sudah menjelma menjadi istilah keren untuk menguraikan sebuah aktivitas pejabat yang mengunjungi masyarakat kelas bawah tanpa batasan formalitas. Aktivitasnya pun sepertinya juga ikut-ikutan ngetren, sampai-sampai banyak yang saling klaim siapa yang lebih dulu melakukan kebiasaan blusukan.

Kita tidak akan menemukan kata blusukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karena memang merupakan bahasa Jawa. Apakah artinya memang sama seperti yang dilakukan Jokowi? Kata dasarnya adalah blusuk atau blesek yang artinya masuk. Jadi blusukan bisa berarti masuk ke sana, masuk ke sini, atau keluar-masuk lah. Sehingga kesimpulannya blusukan itu merupakan aktivitas jalan-jalan keluar-masuk tempat-tempat yang tak banyak dikunjungi orang. Misalnya orang yang berpetualang keluar-masuk hutan semak belukar, atau pedagang keliling yang keluar-masuk pasar-pasar kecil, atau pendekar yang berkelana ke sana ke mari mencari ilmu ke tempat-tempat di mana para guru sakti bertapa.

024c8f6bf5b4c9703679674f3a3ba5b2_abstrak-ngangkangJika sekarang itu blusukan tidak lagi punya nilai sakral ya memang zamannya sudah berubah. Sama seperti sidak (inspeksi mendadak) yang sudah tidak mendadak-mendadak banget sih, karena datangnya rame-rame dengan membawa awak media pula, apanya yang mendadak? Juga yang namanya turba (turun ke bawah) dengan maksud ikut merasakan kehidupan di bawah tapi kenyataannya sampai di bawah si pejabat tetap bergaya priayi ketika berdialog dengan warga. Dari situ lah sebuah kata atau frasa menjadi berubah makna, disesuaikan dengan zamannya, kalo zamannya edan ya maknanya juga ikut gelo, hehe…

Nasib yang hampir sama dialami kata ngangkang yang akhir-akhir ini juga jadi bahan gunjingan banyak pihak. Lagi-lagi kita tidak akan menemukannya di KBBI. Meskipun konon sama-sama berasal dari bahasa Jawa, tapi kata ngangkang telah lebih dahulu eksis di luar daerah asalnya. Di kalangan anak-anak muda ibukota sudah sejak lama dikenal istilah ngengkang yang merujuk kepada kaki yang terbuka lebar seperti orang sedang naik kuda. Begitu pula dengan ngangkang. Dalam boso jowo, kata ini berkembang jadi mekangkang, yaitu gaya kedua kaki berdiri yang terbuka seperti orang-orang yang sedang melakukan olah raga sumo.

Banyak kata-kata bahasa Jawa yang memiliki arti sangat spesifik. Termasuk blusukan dan ngangkang ini. Beberapa daerah lain juga kaya akan kata bermakna spesifik yang dapat diambil untuk memperkaya bahasa Indonesia. Contohnya istilah ‘ngabuburit’ yang berasal dari lema Sunda, yang akhirnya bisa masuk ke dalam KBBI (lihat artikelnya di sini). Juga ada kata unduh (download) dan unggah (upload) yang diambil dari bahasa Jawa. Ide yang bagus juga sih kalau kita mau sedikit blusukan untuk mencari kata-kata dari daerah lain guna memperkaya bahasa kita, terutama untuk mengganti beberapa istilah asing. Tentunya blusukan tanpa bawa-bawa media lah, juga jangan blusukan sambil ngangkang, bisa bahaya, hehe…

Gaya Ngenglish di Program Berita TV

53ac825575f397a41a20fe8b53c124a3_tvri-bw

Budayawan Taufiq Ismail sempat kesal dengan maraknya “bahasa Amerika” di media massa karena penggunaannya yang sangat dominan. Ia mengkritisi tentang nama program salah satu tv swasta nasional yaitu “Top Nine News” (lihat “kisah”nya di sini) yang seolah-olah sajian berita tersebut bukan untuk penduduk Indonesia karena berbahasa Inggris-Amerika (sehingga dibuat istilah “bahasa Amerika” oleh Taufiq Ismail).

Apakah memang begitu hebatnya pengaruh bahasa Amerika-English mendominasi program-program berita di tv kita? Mari lihat apa saja nama program berita di stasiun televisi besar yang siaran di udara negeri ini. Berikut nama program berita di tv swasta siaran nasional. Ada Seputar Indonesia (RCTI), Liputan 6 (SCTV), Topik (ANTV), Fokus (Indosiar), Reportase (TransTV), Redaksi (Trans7), Global Malam (GobalTV), Lintas (MNCTV), dan Kabar (tvOne).

Sementara Metro TV sebagai televisi khusus berita pertama di Indonesia memiliki banyak nama untuk program beritanya, antara lain: Metro Pagi-Siang-Malam, Metro Hari Ini, Metro This Week, Editorial Media Indonesia, Wideshot, Newsmaker, dan Top Nine News yang dipertanyakan Taufiq Ismail. Masih ada dua lagi yaitu Indonesia Now & After Hour adalah program dalam bahasa Inggris sehingga tak masalah dengan namanya. Bahkan ada satu program dengan bahasa Mandarin juga tak masalah jika bernama Metro Xin Wen.

Dari daftar di atas kelihatan bahwa sebenarnya sebagian besar program berita masih setia menggunakan bahasa Indonesia, hanya untuk stasiun tv yang terakhir memang sepertinya membiarkan dirinya untuk dikuasai bahasa Amerika terlihat dari nama-nama program News-nya, seperti yang tertulis di situs web mereka. Entah karena malas mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia atau memang menganggap bahasa Indonesia kurang keren untuk pendengaran mereka.

Tapi dari semuanya, beberapa stasiun tv terpaksa sama dalam menamakan siaran berita sangat penting yang biasanya disiarkan di luar jadwal siaran berita atau setiap jam, yaitu “Breaking News“. Meski beberapa ada yang menamakannya “berita aktual” atau “berita terkini”. Ada satu stasiun tv termuda Kompas TV yang baru tayang tanggal 9 September 2011 lalu memakai istilah lain untuk berita semacam itu yaitu “Kompas Update”. Sangat disayangkan jika melihat koran Kompas yang telah menjadi semacam tolok ukur dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik & benar di media, malah justru memakai istilah asing di tv-nya.

Bagaimana dengan tv milik negara TVRI? Ah, kalau mereka itu sih tidak perlu diragukan lagi keindonesiaannya. Program berita “Dunia Dalam Berita” kala itu termasuk yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar rakyat Indonesia dan menjadi penanda waktu jam 21.00 WIB. Sayangnya program legendaris tersebut kini telah berganti menjadi “Berita Mancanegara”, sama seperti “Berita Terakhir” yang dulu menjadi patokan hari menjelang tengah malam, kini program itu juga sudah tiada. Asalkan semangat untuk tetap memakai bahasa Indonesia jangan sampai ikutan tiada. [b\w]

Selamatkan Bahasa Indonesia!

Tulisan dengan judul Taufiq Ismail: Selamatkan Bahasa Indonesia yang dimuat Kompas 30 Juni 2012 di halaman 14, cukup penting dalam hubungannya dengan pemakaian bahasa Indonesia dewasa ini. Berita tersebut merupakan liputan dari hasil diskusi tentang sastra dan bahasa media massa di Bentara Budaya Jakarta yang berlangsung pada hari Jumat 29 Juni 2012.

Taufiq Ismail melakukan penelitian secara sederhana selama dua jam pada tahun 2009, ia mengamati pemakaian bahasa di media massa terutama di televisi. Dia merasa dicekoki bahasa yang tak semestinya dipakai bagi pemirsa di Indonesia. Top Nine News. Siapa pemirsa berita jam sembilan malam ini? Orang California atau penduduk kota Sydney? Kok pakai bahasa Amerika? Kan bisa memakai judul Sembilan Berita Penting, katanya.

Taufiq juga mencatat hal-hal kecil seperti seringnya pemakaian kata flashback. Menurutnya apa susahnya menggunakan istilah kilas balik? Rupanya memang susah karena bahasa Amerika (Serikat) itu bahasa yang hebat menjajah. Dunia kebahasaan kita seperti bebas dari penjajahan bahasa Belanda masuk ke dalam penjajahan bahasa Amerika. Cengkeraman bahasa Amerika dalam kebahasaan kita, kata Taufiq, sangat kuat. Kondisi ini terjadi sebab kecenderungan bangsa kita untuk minder, rendah diri, bersikap udik, bergaya kampungan, dan suka menunduk-nunduk itu amatlah kuat.

Benar juga pak Taufiq, banyak kejadian di kantor-kantor, di mana sebuah presentasi lebih sering menggunakan bahasa Inggris, atau bahasa Amerika menurut Taufiq Ismail, padahal presentasi tersebut ditujukan kepada orang Indonesia juga. Beberapa kasus memang ada satu orang asing yang biasanya merupakan konsultan dari perusahaan nasional tersebut, tapi apakah kita harus mengalah demi satu orang itu, padahal semua hadirin yang datang adalah orang Indonesia?

Begitulah memang bangsa ini, entah mengapa banyak sekali orang yang sangat tidak sadar bahasa, juga tidak sadar bahwa bahasanya, bahasa Indonesia, sangat berjasa dalam menyatukan bangsa dan negara ini, berjasa dalam menentukan keberadaan bangsa ini.

KNKT, Golongan Menengah, dan Ketidaklulusan Siswa

d62eb10d69db3ca421ee0b764c5a00a3_knkt

Pagi-pagi “sarapan” koran kertas (’kertas’ di sini perlu ditekankan karena makin banyaknya koran digital saat ini) Kompas di hari Jumat 25 Mei 2012 ini ternyata ada 3 pembahasan tentang bahasa Indonesia yang cukup penting juga untuk diangkat di sini. Bahasan bahasa pertama ada di bagian surat pembaca, di mana ada seorang pembaca yang mempertanyakan tentang singkatan KNKT yang sedang sering disebut-sebut terkait kasus kecelakaan SSJ100, nah bagaimana kisahnya? Mari kita pindah paragraf. :)

Pembaca bernama Bapak Hasibuan itu mempertanyakan kepanjangan dari KNKT yaitu Komite Nasional Keselamatan Transportasi yang menurut beliau menyalahi aturan bahasa Indonesia yang berkaidah DM (Diterangkan Menerangkan), apalagi setelah melihat terjemahannya dalam English: National Transportation Safety Committee. Menurut pengirim surat pembaca dari Medan itu bahwa seharusnya susunan yang sesuai adalah Komite Keselamatan Transportasi Nasional (KKTN). Nah, di sini kita diingatkan untuk tidak sembarangan membuat singkatan.

Berikutnya tentang istilah ‘golongan menengah’. Kali ini Andr Mller seorang ahli bahasa Indonesia berkebangsaan Swedia di Rubrik Bahasa halaman 15, membahas tentang bagaimana bisa muncul istilah tersebut. Seperti kita tahu selain golongan menengah, juga ada istilah ‘golongan atas’ dan ‘golongan bawah’. Nah ini yang jadi masalah, seharusnya ‘golongan menengah’ menjadi ‘golongan tengah’ seperti yang diusulkan penulis rubrik. Penyusun kamus Swedia-Indonesia itu juga menulis bahwa jika ada ‘golongan menengah’, seharusnya ada “golongan mengatas” dan “golongan merendah”. Hehe, benar juga ya mister Moller, meskipun istilah ‘golongan menengah’ ini tidak salah dalam arti kata, tapi ketika disandingkan dengan kawan-kawannya golongan yang lain jadi tidak sesuai kaidah, belum lagi ketika ada istilah turunannya ‘golongan menengah atas’ dan ‘golongan menengah bawah’, nah loh bagaimana pula itu?

Pembahasan terakhir cukup memprihatinkan, yaitu didapat dari Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang mayoritas kegagalan siswa SMA pada ujian nasional tahun ini ada pada Bahasa Indonesia dan Matematika. Rata-rata mereka yang gagal tersebut justru merupakan pelajar di perkotaan. Ini sebenarnya sudah bukan hal baru, tahun lalu pun mata pelajaran Bahasa Indonesia juga sukses jadi pengganjal kelulusan para siswa. Entah apa yang salah dengan pelajaran ini? Apa karena bahasa yang setiap hari digunakan sehingga justru dianggap tidak terlalu penting? Memang sudah sejak dulu para siswa banyak yang menganggap enteng pelajaran Bahasa Indonesia, bahkan beberapa juga bilang membosankan.

Repot juga ya kalau begitu ceritanya. Bahasa Indonesia tidak lagi dianggap penting, sepertinya bahasa Inggris buat mereka jauh lebih penting. Mereka tidak sadar akibatnya jika bahasa persatuan ini tidak ada. Bagaimana sulitnya berkomunikasi dengan bermacam-macam suku dengan bahasanya sendiri-sendiri. Sementara sekarang ini salah satu unsur penting yang masih menyatukan setiap suku bangsa di republik ini karena adanya bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Bayangkan jika mereka tidak berbahasa Indonesia, masing-masing punya bahasa sendiri, dan bisa jadi alasan jitu untuk memisahkan diri dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Tahun Baru & Hari Raya

Partai Dem***** mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek 2563… begitulah seorang wanita cantik di iklan televisi buatan sebuah partai politik yang sedang mengucapkan selamat dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek 2563 yang tepat pada tanggal 23 Januari tahun 2012 Masehi. Sekilas memang tidak ada yang aneh dari kalimat yang diucapkan si cantik itu, tapi coba perhatikan di kata selamat hari raya bukannya selamat tahun baru.

Bukankah tahun baru itu juga hari raya, karena juga dirayakan? Memang betul, sesuai dengan artinya, kata raya yang berarti besar memang cocok juga ditempelkan ke hari di mana menjadi awal dari sebuah tahun yang baru… (nah, bingung kan?). Tapi bukankah lebih baik jika kita mengucapkannya selamat tahun baru bukannya selamat hari raya?

Di Indonesia ada 3 tahun baru yang dirayakan selain tahun baru Masehi 1 Januari, yaitu:

1. Tahun Baru Hijriah 1 Muharram, yang dimulai sejak hijrah atau pindahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah tepatnya pada tahun 622 Masehi. Kalender Islam Hijriah ini menggunakan perhitungan bulan, dan mulai hari baru ketika matahari terbenam, bukan tengah malam pukul 00:00 seperti Masehi.

2. Tahun Baru Saka, berdasarkan kalender umat Hindu Bali. Menurut situs Parisada Hindu Dharma Indonesia, tahun baru ini sejarahnya adalah ketika terjadi konflik antar suku di India, Suku Saka yang dipimpin oleh Raja Kaniskha I memenangkan pertikaian tersebut. Saat itu bertepatan dengan bulan Maret tahun 78 Masehi. Perayaan ini dikenal juga dengan Hari Raya Nyepi, karena umat Hindu merayakannya dengan ritual menyepi sehari semalam.

3. Tahun Baru Imlek, dirayakan oleh bangsa Tionghoa dengan mengacu kepada pergerakan bulan, karena kata Imlek sendiri dalam bahasa/dialek Hokkian berarti penanggalan bulan, atau Yin Li dalam bahasa Mandarin. Banyak versi yang menceritakan sejarah tahun baru ini, sehingga agak sulit untuk ditulis di sini karena takut salah, yang jelas di negeri Cina tahun baru Imlek dimulai selalu di awal musim semi, musim di mana sesuatu yang lama digantikan oleh yang baru. Di beberapa tulisan juga menyebutkan bahwa acuan kalender Imlek ini menggunakan perhitungan gabungan matahari, bulan, 2 energi yin-yang, konstelasi bintang atau astrologi shio, 24 musim, dan 5 unsur alam.

Sementara untuk Hari Raya, di Indonesia punya banyak Hari Raya (baca: hari libur nasional). Mulai dari Idul Fitri, Idul Adha, Maulid, Isra Miraj, Natal, Paskah, Waisak, hingga Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kesemuanya memiliki ucapanucapan khas tersendiri, tidak bisa disamakan menjadi selamat hari raya, apalagi ketika 17 Agustus, mosok jadi Selamat Hari Raya Proklamasi???

Khusus untuk Tahun Baru, apalagi yang memiliki sejarah panjang dan teknik yang rumit sehingga akhirnya tercipta sebuah sistem kalender baru, tampaknya harus tetap menggunakan pengucapan selamat tahun baru. Paling tidak untuk lebih menghargai upaya penciptaan penanggalan rumit tersebut, dan juga pada hari itu bukanlah sekadar sebuah hari raya yang biasa karena menyangkut kehidupan yang akan dilalui satu tahun ke depan. Selamat Tahun Raya di Hari Baru…

Apa itu RE-SO-LU-SI

gambar diambil dari wikipedia

gambar diambil dari wikipedia

Menjelang berakhirnya tahun 2011 Masehi ini, ada satu kata yang sedang naik daun dan sering ditanyakan antar kita, yaitu kata resolusi. Apa resolusi kamu di tahun 2012 atau Apakah Anda sudah punya resolusi untuk menjalani tahun baru 2012 mendatang? begitulah salah dua contoh pertanyaan tentang resolusi. Tapi sebenarnya, tau nggak sih apa itu artinya resolusi?

Sebelum kita mulai menjawab segala pertanyaan seperti di atas, atau sebelum kita mulai menulis daftar resolusi itu tadi, sebaiknya kita lihat dulu apa kata KBBI Daring tentang resolusi:

resolusi /rsolusi/ n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yg ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tt suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu ….. yg akan diajukan kpd pemerintah

Nah, sudah jelas kan, apa yang dimaksud dengan re-so-lu-si? Kata ini kemungkinan besar diadaptasi dari kata English, yaitu resolution, yang menurut Merriam-Webster Dictionary artinya adalah the act or process of resolving yaa… terjemahan bebas Google-nya adalah tindakan atau proses penyelesaian.

Secara harfiah atau berdasarkan arti leksikal, contoh pertanyaan di atas tadi masih bisa relevan dengan arti sebenarnya. Artinya kata resolusi bisa dianggap berupa sebuah atau beberapa tuntutan tentang suatu hal bagi diri kita di tahun 2012. Begitu pula jika mengacu pada arti English-nya, sepertinya juga masih sesuai, pertanyaan tersebut bisa mengarah kepada sebuah tindakan atau proses penyelesaian yang akan kita lakukan di tahun depan.

Namun masalahnya, saat ini kata resolusi sudah banyak yang menganggap sebagai istilah lain dari harapan, bahkan juga cita-cita, impian, atau bagaimana melaksanakan rencana-rencana yang belum terlaksana, atau yang akan dilakukan di tahun yang akan datang. Dalam hal ini resolusi jadi sedikit mengalami perubahan makna, lebih berkembang, dan bisa-bisa malah lari jauh dari makna sesungguhnya.

Resolusi bukanlah kata gabungan dari re dan solusi, yang artinya solusi ulang, tapi bisa saja di antara daftar resolusi kita untuk tahun yang baru salah satunya merupakan sebuah aktivitas untuk mencapai solusi yang diulang, karena mungkin di tahun 2011 hasil solusinya kurang memuaskan. Semoga segalanya di hari, bulan, dan tahun yang baru, dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Selamat tahun baru 2012, dan selamat mengimplementasikan resolusi yang sudah dibuat (bagi yang membuatnya). :D

Jambore Nasional Bahasa, memang ada Pramuka bahasa?

Pada tanggal 29 November hingga 3 Desember 2011 lalu diselenggarakan JAMBORE NASIONAL BAHASA & SASTRA 2011 yang bertempat di Bumi Perkemahan Cibubur. Acara yang dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan & Kebudayaan Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, Ph.D. ini intinya adalah untuk lebih memberi tempat bagi Bahasa Indonesia & Sastra Indonesia untuk lebih eksis dan berkembang, kalau bahasa entengnya: “Pokoknya pemerintah nggak nyuekin Bahasa Indonesia deh, ini kita bikinin acara nih biar lebih diperhatikan dan lebih baik…”

Sampai di situ tadi, tidak ada masalah dengan acara ini, apalagi bertujuan sangat positif. Namun yang sedikit ngganjel adalah masalah kata ‘jambore’. Bagi sebagian besar orang memang jika menemukan kata ini langsung berkonotasi dengan keberadaan Pramuka (Praja Muda Karana), dan memang dalam KBBI Daring yang penerbitnya sama dengan yang mengadakan Jambore Nasional di atas, arti dari kata jambore /jambor/ n pertemuan besar para pramuka; – daerah pertemuan antarpramuka tingkat daerah yg diadakan bersamaan waktunya dng jambore nasional; – nasional pertemuan antarpramuka pd tingkat nasional. Jambore Nasional Bahasa & Sastra 2011, berarti ada Pramuka bahasa, atau pada hari itu para Pramuka sedang khusus ngurusin Bahasa Indonesia. Memang ada ya Pramuka Saka Bahasa Indonesia gitu? Hehe…

Jika kita baca berita yang resmi dikeluarkan oleh http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id tentang acara ini, kita akan tahu peserta Jambore sebanyak 1.000 orang dari 32 provinsi di Indonesia, yang terdiri atas siswa SLTA, mahasiswa, pramuka, duta bahasa dari Badan Bahasa, pemuda berkebutuhan khusus, pemerhati bahasa dan sastra, dan Palang Merah Indonesia. Nah, ternyata tidak semua pesertanya adalah pramuka, bahkan pramuka hanya menjadi salah satu dari peserta. Lalu masih cocokkah kata ‘jambore’ digunakan sebagai judul/tema acara? Bagaimana jika diganti jadi ‘Perkemahan’ atau ‘Pekan’ atau ‘Festival’? Contohnya “Perkemahan Nasional Bahasa & Sastra 2011″ lumayan keren ah untuk sebuah judul besar… Tapi, tapi memang masih lebih cool pakai Jambore sih, meski salah… hahahaha…

Bahasa Lebaran

Entah dari mana asal kata Lebaran yang merupakan istilah Indonesia untuk Idulfitri, yang jelas dalam KBBI Lebaran bermakna: hari raya umat Islam yg jatuh pd tgl 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idulfitri. Semua orang di Indonesia juga tahu itu pastinya.

Lebaran yang keberadaannya didahului dengan puasa selama sebulan di bulan Ramadan, memiliki banyak istilah-istilah yang timbul hanya di satu bulan tersebut, yang kemungkinan kecil pada bulan-bulan lain tidak atau sangat jarang digunakan. Mulai dari sahur. imsakiyah, tarawih, isbat, hisab, rukyat, hingga lailatul qadar dan itikaf yang kesemuanya dari bahasa Arab.

Di bulan Ramadan kita pasti sering mendengar istilah buka puasa. Bagaimana ceritanya, seorang yang seharian berpuasa menahan lapar dan dahaga, ketika akan mengakhiri aktivitasnya disebut dengan berbuka? Lha, memang apanya yang dibuka? Mulutnya? Seharusnya kata yang tepat adalah membatalkan puasa atau lebih tepat lagi mengakhiri puasa (pada hari itu). Tapi ya sudah terlanjur populer, istilah buka ini malah sudah resmi jadi akronim, ada bukber (buka bersama), atau bubar (buka bareng).

Menjelang hari Lebaran, kata mudik mulai jadi santapan setiap hari di media. Kata ini dalam KBBI berarti: (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman). Jika melihat artinya, asal kata ini dari kata udik yang berarti hulu sungai atau kampung, dusun, desa yang sangat berhubungan erat dengan aktivitas mudik itu sendiri yang memang bergerak kembali ke pedalaman atau ke kampung/desa/dusun asal dari para pemudik sebelum tinggal/bekerja di kota.

Ketika sudah di kampung halaman, para pemudik terutama dari suku Jawa, biasanya mereka melakukan aktivitas sungkem kepada orang tua, dan juga melakukan kunjungan atau sowan kepada sanak keluarga. Hebatnya, kata dari bahasa Jawa ini sudah resmi masuk KBBI. Sungkem artinya: sujud (tanda bakti dan hormat), sedangkan sowan berarti: menghadap (kpd orang yg dianggap harus dihormati, spt raja, guru, atasan, orang tua); berkunjung.

Ada yang lucu pada ucapan ketika Lebaran tiba. Kalimat minal aidin wal faizin sering disangka orang berarti mohon maaf lahir batin, padahal BUKAN! Kalimat dari bahasa Arab itu seharusnya lengkap seperti ini: jaalanallahu minal aidin wal faizin yang artinya: semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Saking merasuknya arti mohon maaf tersebut, sampai-sampai ketika saling bertemu orang menyingkatnya jadi Minal aidin ya… atau yang lebih ekstrim jadi Minal-minul ya… yang tentunya sudah sangat tidak bermakna lagi.

Sebenarnya, daripada bingung, sebagai orang Indonesia pakailah bahasa yang sudah jelas diketahui siapa saja jika ingin mengucapkan kepada sesama warga republik ini. Apa susahnya menulis atau mengucapkan selamat Lebaran, mohon maaf lahir batin.

Kumpul Kebo atau Kumpul Kerbau?

Di harian Kompas yang terbit pada hari Jumat 29 April 2011, tepatnya di kolom ‘Bahasa’ halaman 15, ada tulisan bapak Anton M Moeliono yang sangat menarik, berikut tulisannya:

BAHASA
Kumpul Kerbau

Ada perbedaan yang jelas antara proses penyerapan kosakata asing zaman dulu dari yang sekarang. Dahulu penyerapan didasarkan pada pendengaran dan hasilnya ditulis dengan huruf yang dianggap paling dekat dengan bunyi vokal atau konsonan Indonesia. Misalnya, chaffeur (Belanda) menjadi sopir, winkel menjadi bengkel, dan luitenant menjadi letnan.

Menurut penelitian mahasiswa saya, bentuk serapan dari bahasa Belanda hingga awal Perang Dunia Kedua berjumlah kira-kira 4.000 butir. Di samping itu selama berabad-abad berlangsung penyerapan antara lain dari bahasa Sanskerta, Arab, Cina, Portugis, Tamil, dan Persia. Bahasa Melayu dan bahasa Indonesia dewasa ini paling banyak menyerap kosakata dari bahasa Inggris ragam Amerika, Britania, dan Australia.

Karena bangsa Indonesia sedang memasuki peradaban beraksara dan teknologi informasi, warga masyarakat bangsa Indonesiadi mana pun tinggalnyadiharapkan memakai unsur kosakata serapan dengan bentuk tulisnya sama dan seragam, sedangkan lafalnya dapat berbeda menurut suku etnis dan bahasa daerah yang masih dipakainya.

Ambillah kata Belanda dan Inggris bus, yang di Medan lafalnya mungkin mirip dengan busuk atau busur, tetapi di Bandung lafalnya menjurus ke beus seperti kata beureum ‘merah’, dan di Yogya condong ke bis sebab orang ngebis. Akhir-akhir ini diperkenalkan bentuk busway, dan yang suku awalnya dilafalkan secara Inggris: bas. Demi keseragaman, yang menjadi ciri pembakuan, kita menetapkan ejaannya jadi bus.

Sejak 1972 dipakai pedoman berikut. Proses penyerapan bertolak dari bentuk tulisan tak lagi dari lafal ungkapan asing. Ejaan kata Inggris management diubah menjadi manajemen yang lafalnya oleh orang Yogya berbeda dari orang Padang. Namun, ejaan atau bentuk tulisannya sama. Namun, karena kita tidak merasa wajib mematuhi kaidah dan aturan, kecuali jika ada sanksi, atau denda, kata basement belum diserap menjadi basemen (ba-se-men) walaupun sudah ada aransemen, klasemen, dan konsumen. Kata basement dapat diterjemahkan jadi ruang bawah tanah dengan akronimnya rubanah.

Sikap taat asas juga perlu diterapkan pada unsur serapan yang berasal dari bahasa daerah Nusantara. Ungkapan kumpul kebo kita nasionalkan menjadi kumpul kerbau karena yang berkumpul serumah itu bukan kerbau-kerbau Jawa saja. Selanjutnya orang yang membangkang atau menentang perintah tidak mbalelo, tetapi membalela. Orang yang tidak berprasangka bahwa daya ungkap bahasa Indonesia masih rendah akan menemukan kata membalela di dalam kamus Poerwadarminta yang terbit pada tahun 1952.

Begitu pula ada kata merisak ‘menakuti atau menyakiti orang yang lebih lemah’ untuk memadankan to bully dan bullying, serta kata berlepak menghabiskan waktu dengan duduk-duduk tanpa melaksanakan sesuatu yang bermanfaat untuk mengungkapkan budaya remaja to hang out.

Kita tidak mengenal kosakata Indonesia karena, menurut laporan terakhir, 50 persen dari sekolah dasar dan 35 persen dari sekolah lanjutan pertama pemerintah tidak memiliki koleksi pustaka, dan kamus tidak disertakan berperan dalam proses belajar-mengajar bahasa.

ANTON M MOELIONO, Pereksa Bahasa, Guru Besar Emeritus UI

Ubah Kebiasaan Rubah di Twitter

rubah-safir

Mungkin sidang pembaca yang budiman sudah bosan jika blog ini lagi-lagi membahas masalah pemakaian kata ubah yang sering menjadi rubah, jika lagi-lagi menangkap bukti kesalahan penggunaan kata ubah. Tapi memang itu harus dilakukan guna mengingatkan kita semua karena kesalahan itu selalu terjadi berulang-ulang, bahkan dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya tidak boleh melakukan kesalahan tersebut.

Penyebaran kesalahan rubah kini justru makin menjadi-jadi, apalagi sejak mulai marak yang namanya sosial media. Para ‘seleb‘ berbondong-bondong menulis di sosial media, terutama Twitter. Namun sayangnya, kicauan mereka seringkali tidak memerhatikan kaidah berbahasa yang baik dan benar, bukan berarti mereka wajib menulis dalam bahasa formal, tetapi tetap harus disesuaikan dengan latar belakang dan profesi mereka.

Memang sih, sosial media apalagi Twitter bukanlah media pendidikan. Justru sebaliknya orang menyukai Twitter karena di situlah mereka bisa menulis apa saja tanpa hambatan. Mereka bisa bebas menulis dengan bahasa lisan. Tapi tentu jadi lain cerita jika yang menulis adalah seorang figur publik yang punya pengikut (follower) banyak. Selain harus menjaga materi yang akan di-twit, kaidah berbahasa juga sebaiknya diperhatikan, karena itu merupakan bagian dari kecintaan kita kepada bangsa ini, karena kalau bukan kita yang mencintai bahasa nasional kita sendiri, lalu siapa lagi? Demikian. :)

Halaman Berikutnya »