Jan
24

“Partai Dem***** mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek 2563…” begitulah seorang wanita cantik di iklan televisi buatan sebuah partai politik yang sedang mengucapkan selamat dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek 2563 yang tepat pada tanggal 23 Januari tahun 2012 Masehi. Sekilas memang tidak ada yang aneh dari kalimat yang diucapkan si cantik itu, tapi coba perhatikan di kata “selamat hari raya” bukannya “selamat tahun baru”.

Bukankah tahun baru itu juga hari raya, karena juga dirayakan? Memang betul, sesuai dengan artinya, kata ‘raya’ yang berarti ‘besar’ memang cocok juga ditempelkan ke hari di mana menjadi awal dari sebuah tahun yang baru… (nah, bingung kan?). Tapi bukankah lebih baik jika kita mengucapkannya ‘selamat tahun baru’ bukannya ‘selamat hari raya’?

Di Indonesia ada 3 tahun baru yang dirayakan selain tahun baru Masehi 1 Januari, yaitu:

1. Tahun Baru Hijriah 1 Muharram, yang dimulai sejak hijrah atau pindahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah tepatnya pada tahun 622 Masehi. Kalender Islam Hijriah ini menggunakan perhitungan bulan, dan mulai hari baru ketika matahari terbenam, bukan tengah malam pukul 00:00 seperti Masehi.

2. Tahun Baru Saka, berdasarkan kalender umat Hindu Bali. Menurut situs Parisada Hindu Dharma Indonesia, tahun baru ini sejarahnya adalah ketika terjadi konflik antar suku di India, Suku Saka yang dipimpin oleh Raja Kaniskha I memenangkan pertikaian tersebut. Saat itu bertepatan dengan bulan Maret tahun 78 Masehi. Perayaan ini dikenal juga dengan Hari Raya Nyepi, karena umat Hindu merayakannya dengan ritual “menyepi” sehari semalam.

3. Tahun Baru Imlek, dirayakan oleh bangsa Tionghoa dengan mengacu kepada pergerakan bulan, karena kata ‘Imlek’ sendiri dalam bahasa/dialek Hokkian berarti ‘penanggalan bulan’, atau ‘Yin Li’ dalam bahasa Mandarin. Banyak versi yang menceritakan sejarah tahun baru ini, sehingga agak sulit untuk ditulis di sini karena takut salah, yang jelas di negeri Cina tahun baru Imlek dimulai selalu di awal musim semi, musim di mana sesuatu yang lama digantikan oleh yang baru. Di beberapa tulisan juga menyebutkan bahwa acuan kalender Imlek ini menggunakan perhitungan gabungan matahari, bulan, 2 energi yin-yang, konstelasi bintang atau astrologi shio, 24 musim, dan 5 unsur alam.

Sementara untuk Hari Raya, di Indonesia punya banyak Hari Raya (baca: hari libur nasional). Mulai dari Idul Fitri, Idul Adha, Maulid, Isra Mi’raj, Natal, Paskah, Waisak, hingga Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kesemuanya memiliki ucapan–ucapan khas tersendiri, tidak bisa disamakan menjadi ‘selamat hari raya’, apalagi ketika 17 Agustus, mosok jadi Selamat Hari Raya Proklamasi???

Khusus untuk Tahun Baru, apalagi yang memiliki sejarah panjang dan teknik yang rumit sehingga akhirnya tercipta sebuah sistem kalender baru, tampaknya harus tetap menggunakan pengucapan ‘selamat tahun baru’. Paling tidak untuk lebih menghargai upaya penciptaan penanggalan rumit tersebut, dan juga pada hari itu bukanlah sekadar sebuah hari raya yang biasa karena menyangkut kehidupan yang akan dilalui satu tahun ke depan. Selamat Tahun Raya di Hari Baru :D

Des
31
gambar diambil dari wikipedia

gambar diambil dari wikipedia

Menjelang berakhirnya tahun 2011 Masehi ini, ada satu kata yang sedang naik daun dan sering ditanyakan antar kita, yaitu kata ‘resolusi’. “Apa resolusi kamu di tahun 2012” atau “Apakah Anda sudah punya resolusi untuk menjalani tahun baru 2012 mendatang?” begitulah salah dua contoh pertanyaan tentang resolusi. Tapi sebenarnya, tau nggak sih apa itu artinya ‘resolusi’?

Sebelum kita mulai menjawab segala pertanyaan seperti di atas, atau sebelum kita mulai menulis “daftar resolusi” itu tadi, sebaiknya kita lihat dulu apa kata KBBI Daring tentang ‘resolusi’:

re·so·lu·si /résolusi/ n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yg ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tt suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu ….. yg akan diajukan kpd pemerintah

Nah, sudah jelas kan, apa yang dimaksud dengan re-so-lu-si? Kata ini kemungkinan besar diadaptasi dari kata English, yaitu resolution, yang menurut Merriam-Webster Dictionary artinya adalah ‘the act or process of resolving’ yaa… terjemahan bebas Google-nya adalah ‘tindakan atau proses penyelesaian’.

Secara harfiah atau berdasarkan arti leksikal, contoh pertanyaan di atas tadi masih bisa relevan dengan arti sebenarnya. Artinya kata ‘resolusi’ bisa dianggap berupa sebuah atau beberapa tuntutan tentang suatu hal bagi diri kita di tahun 2012. Begitu pula jika mengacu pada arti English-nya, sepertinya juga masih sesuai, pertanyaan tersebut bisa mengarah kepada sebuah tindakan atau proses penyelesaian yang akan kita lakukan di tahun depan.

Namun masalahnya, saat ini kata ‘resolusi’ sudah banyak yang menganggap sebagai istilah lain dari ‘harapan’, bahkan juga ‘cita-cita’, ‘impian’, atau bagaimana melaksanakan rencana-rencana yang belum terlaksana, atau yang akan dilakukan di tahun yang akan datang. Dalam hal ini resolusi jadi sedikit mengalami perubahan makna, lebih berkembang, dan bisa-bisa malah lari jauh dari makna sesungguhnya.

Resolusi bukanlah kata gabungan dari ‘re’ dan ‘solusi’, yang artinya ‘solusi ulang’, tapi bisa saja di antara “daftar” resolusi kita untuk tahun yang baru salah satunya merupakan sebuah aktivitas untuk mencapai solusi yang diulang, karena mungkin di tahun 2011 hasil solusinya kurang memuaskan. Semoga segalanya di hari, bulan, dan tahun yang baru, dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Selamat tahun baru 2012, dan selamat mengimplementasikan resolusi yang sudah dibuat (bagi yang membuatnya). :D

Des
05

Pada tanggal 29 November hingga 3 Desember 2011 lalu diselenggarakan JAMBORE NASIONAL BAHASA & SASTRA 2011 yang bertempat di Bumi Perkemahan Cibubur. Acara yang dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan & Kebudayaan Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, Ph.D. ini intinya adalah untuk lebih memberi tempat bagi Bahasa Indonesia & Sastra Indonesia untuk lebih eksis dan berkembang, kalau bahasa entengnya: “Pokoknya pemerintah nggak nyuekin Bahasa Indonesia deh, ini kita bikinin acara nih biar lebih diperhatikan dan lebih baik…”

Sampai di situ tadi, tidak ada masalah dengan acara ini, apalagi bertujuan sangat positif. Namun yang sedikit ngganjel adalah masalah kata ‘jambore’. Bagi sebagian besar orang memang jika menemukan kata ini langsung berkonotasi dengan keberadaan Pramuka (Praja Muda Karana), dan memang dalam KBBI Daring yang penerbitnya sama dengan yang mengadakan Jambore Nasional di atas, arti dari kata jam·bo·re /jamboré/ n pertemuan besar para pramuka; – daerah pertemuan antarpramuka tingkat daerah yg diadakan bersamaan waktunya dng jambore nasional; – nasional pertemuan antarpramuka pd tingkat nasional. Jambore Nasional Bahasa & Sastra 2011, berarti ada Pramuka bahasa, atau pada hari itu para Pramuka sedang khusus ngurusin Bahasa Indonesia. Memang ada ya Pramuka Saka Bahasa Indonesia gitu? Hehe…

Jika kita baca berita yang resmi dikeluarkan oleh http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id tentang acara ini, kita akan tahu peserta Jambore sebanyak 1.000 orang dari 32 provinsi di Indonesia, yang terdiri atas siswa SLTA, mahasiswa, pramuka, duta bahasa dari Badan Bahasa, pemuda berkebutuhan khusus, pemerhati bahasa dan sastra, dan Palang Merah Indonesia. Nah, ternyata tidak semua pesertanya adalah pramuka, bahkan pramuka hanya menjadi salah satu dari peserta. Lalu masih cocokkah kata ‘jambore’ digunakan sebagai judul/tema acara? Bagaimana jika diganti jadi ‘Perkemahan’ atau ‘Pekan’ atau ‘Festival’? Contohnya “Perkemahan Nasional Bahasa & Sastra 2011″ lumayan keren ah untuk sebuah judul besar… Tapi, tapi memang masih lebih cool pakai Jambore sih, meski salah… hahahaha…

Sep
04

Entah dari mana asal kata ‘Lebaran’ yang merupakan istilah Indonesia untuk Idulfitri, yang jelas dalam KBBI ‘Lebaran’ bermakna: hari raya umat Islam yg jatuh pd tgl 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idulfitri. Semua orang di Indonesia juga tahu itu pastinya.

Lebaran yang keberadaannya didahului dengan puasa selama sebulan di bulan Ramadan, memiliki banyak istilah-istilah yang timbul hanya di satu bulan tersebut, yang kemungkinan kecil pada bulan-bulan lain tidak atau sangat jarang digunakan. Mulai dari ‘sahur’. ‘imsakiyah’, ‘tarawih’, ‘isbat’, ‘hisab’, ‘rukyat’, hingga ‘lailatul qadar’ dan ‘i’tikaf’ yang kesemuanya dari bahasa Arab.

Di bulan Ramadan kita pasti sering mendengar istilah ‘buka puasa’. Bagaimana ceritanya, seorang yang seharian berpuasa menahan lapar dan dahaga, ketika akan mengakhiri aktivitasnya disebut dengan ‘berbuka’? Lha, memang apanya yang dibuka? Mulutnya? Seharusnya kata yang tepat adalah ‘membatalkan puasa’ atau lebih tepat lagi ‘mengakhiri puasa’ (pada hari itu). Tapi ya sudah terlanjur populer, istilah ‘buka’ ini malah sudah resmi jadi akronim, ada ‘bukber’ (buka bersama), atau ‘bubar’ (buka bareng).

Menjelang hari Lebaran, kata ‘mudik’ mulai jadi santapan setiap hari di media. Kata ini dalam KBBI berarti: (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman). Jika melihat artinya, asal kata ini dari kata ‘udik’ yang berarti ‘hulu sungai’ atau ‘kampung, dusun, desa’ yang sangat berhubungan erat dengan aktivitas ‘mudik’ itu sendiri yang memang bergerak kembali ke “pedalaman” atau ke kampung/desa/dusun asal dari para pemudik sebelum tinggal/bekerja di kota.

Ketika sudah di kampung halaman, para pemudik terutama dari suku Jawa, biasanya mereka melakukan aktivitas ‘sungkem’ kepada orang tua, dan juga melakukan kunjungan atau ‘sowan’ kepada sanak keluarga. Hebatnya, kata dari bahasa Jawa ini sudah resmi masuk KBBI. Sungkem artinya: sujud (tanda bakti dan hormat), sedangkan ‘sowan’ berarti: menghadap (kpd orang yg dianggap harus dihormati, spt raja, guru, atasan, orang tua); berkunjung.

Ada yang lucu pada ucapan ketika Lebaran tiba. Kalimat ‘minal aidin wal faizin’ sering disangka orang berarti ‘mohon maaf lahir batin’, padahal BUKAN! Kalimat dari bahasa Arab itu seharusnya lengkap seperti ini: ‘ja’alanallahu minal aidin wal faizin’ yang artinya: semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Saking merasuknya arti mohon maaf tersebut, sampai-sampai ketika saling bertemu orang menyingkatnya jadi “Minal aidin ya…” atau yang lebih ekstrim jadi “Minal-minul ya…” yang tentunya sudah sangat tidak bermakna lagi.

Sebenarnya, daripada bingung, sebagai orang Indonesia pakailah bahasa yang sudah jelas diketahui siapa saja jika ingin mengucapkan kepada sesama warga republik ini. Apa susahnya menulis atau mengucapkan ‘selamat Lebaran, mohon maaf lahir batin’.

Apr
30

Di harian Kompas yang terbit pada hari Jumat 29 April 2011, tepatnya di kolom ‘Bahasa’ halaman 15, ada tulisan bapak Anton M Moeliono yang sangat menarik, berikut tulisannya:

BAHASA
Kumpul Kerbau

Ada perbedaan yang jelas antara proses penyerapan kosakata asing zaman dulu dari yang sekarang. Dahulu penyerapan didasarkan pada pendengaran dan hasilnya ditulis dengan huruf yang dianggap paling dekat dengan bunyi vokal atau konsonan Indonesia. Misalnya, chaffeur (Belanda) menjadi sopir, winkel menjadi bengkel, dan luitenant menjadi letnan.

Menurut penelitian mahasiswa saya, bentuk serapan dari bahasa Belanda hingga awal Perang Dunia Kedua berjumlah kira-kira 4.000 butir. Di samping itu selama berabad-abad berlangsung penyerapan antara lain dari bahasa Sanskerta, Arab, Cina, Portugis, Tamil, dan Persia. Bahasa Melayu dan bahasa Indonesia dewasa ini paling banyak menyerap kosakata dari bahasa Inggris ragam Amerika, Britania, dan Australia.

Karena bangsa Indonesia sedang memasuki peradaban beraksara dan teknologi informasi, warga masyarakat bangsa Indonesia—di mana pun tinggalnya—diharapkan memakai unsur kosakata serapan dengan bentuk tulisnya sama dan seragam, sedangkan lafalnya dapat berbeda menurut suku etnis dan bahasa daerah yang masih dipakainya.

Ambillah kata Belanda dan Inggris bus, yang di Medan lafalnya mungkin mirip dengan busuk atau busur, tetapi di Bandung lafalnya menjurus ke beus seperti kata beureum ‘merah’, dan di Yogya condong ke bis sebab orang ngebis. Akhir-akhir ini diperkenalkan bentuk busway, dan yang suku awalnya dilafalkan secara Inggris: bas. Demi keseragaman, yang menjadi ciri pembakuan, kita menetapkan ejaannya jadi bus.

Sejak 1972 dipakai pedoman berikut. Proses penyerapan bertolak dari bentuk tulisan tak lagi dari lafal ungkapan asing. Ejaan kata Inggris management diubah menjadi manajemen yang lafalnya oleh orang Yogya berbeda dari orang Padang. Namun, ejaan atau bentuk tulisannya sama. Namun, karena kita tidak merasa wajib mematuhi kaidah dan aturan, kecuali jika ada sanksi, atau denda, kata basement belum diserap menjadi basemen (ba-se-men) walaupun sudah ada aransemen, klasemen, dan konsumen. Kata basement dapat diterjemahkan jadi ruang bawah tanah dengan akronimnya rubanah.

Sikap taat asas juga perlu diterapkan pada unsur serapan yang berasal dari bahasa daerah Nusantara. Ungkapan kumpul kebo kita nasionalkan menjadi kumpul kerbau karena yang berkumpul serumah itu bukan kerbau-kerbau Jawa saja. Selanjutnya orang yang membangkang atau menentang perintah tidak mbalelo, tetapi membalela. Orang yang tidak berprasangka bahwa daya ungkap bahasa Indonesia masih rendah akan menemukan kata membalela di dalam kamus Poerwadarminta yang terbit pada tahun 1952.

Begitu pula ada kata merisak ‘menakuti atau menyakiti orang yang lebih lemah’ untuk memadankan to bully dan bullying, serta kata berlépak menghabiskan waktu dengan duduk-duduk tanpa melaksanakan sesuatu yang bermanfaat untuk mengungkapkan budaya remaja to hang out.

Kita tidak mengenal kosakata Indonesia karena, menurut laporan terakhir, 50 persen dari sekolah dasar dan 35 persen dari sekolah lanjutan pertama pemerintah tidak memiliki koleksi pustaka, dan kamus tidak disertakan berperan dalam proses belajar-mengajar bahasa.

ANTON M MOELIONO, Pereksa Bahasa, Guru Besar Emeritus UI

Category: 1  2 Comments
Mar
08

rubah-safir

Mungkin sidang pembaca yang budiman sudah bosan jika blog ini lagi-lagi membahas masalah pemakaian kata ‘ubah’ yang sering menjadi ‘rubah’, jika lagi-lagi “menangkap” bukti kesalahan penggunaan kata ‘ubah’. Tapi memang itu harus dilakukan guna mengingatkan kita semua karena kesalahan itu selalu terjadi berulang-ulang, bahkan dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya tidak boleh melakukan kesalahan tersebut.

Penyebaran kesalahan ‘rubah’ kini justru makin menjadi-jadi, apalagi sejak mulai marak yang namanya sosial media. Para ‘seleb‘ berbondong-bondong menulis di sosial media, terutama Twitter. Namun sayangnya, “kicauan” mereka seringkali tidak memerhatikan kaidah berbahasa yang baik dan benar, bukan berarti mereka wajib menulis dalam bahasa formal, tetapi tetap harus disesuaikan dengan latar belakang dan profesi mereka.

Memang sih, sosial media apalagi Twitter bukanlah media pendidikan. Justru sebaliknya orang menyukai Twitter karena di situlah mereka bisa menulis apa saja tanpa hambatan. Mereka bisa bebas menulis dengan bahasa lisan. Tapi tentu jadi lain cerita jika yang menulis adalah seorang figur publik yang punya pengikut (follower) banyak. Selain harus menjaga materi yang akan di-twit, kaidah berbahasa juga sebaiknya diperhatikan, karena itu merupakan bagian dari kecintaan kita kepada bangsa ini, karena kalau bukan kita yang mencintai bahasa nasional kita sendiri, lalu siapa lagi? Demikian. :)

Des
23
Gonzales & keluarganya (vivanews.com)

Istilah ini kini sedang marak-maraknya berseliweran di berbagai media. Akibat prestasi Tim Nasional Sepak Bola Indonesia yang cukup menyita perhatian publik. Beberapa anggota tim ternyata adalah pemain yang mendapat “gelar” naturalisasi, salah satunya adalah Gonzales yang beristrikan warga Indonesia, entah karena itu dia jadi dinaturalisasikan, atau karena hal lain, kita tentu tidak akan membahasnya di sini.

Kata ‘naturalisasi’ sesungguhnya sudah lama ada, dan biasanya sering disebut-sebut di dalam ranah keimigrasian. Karena jika kita nelihat di KBBI, maka arti dari istilah tersebut: pemerolehan kewarganegaraan bagi penduduk asing; hal menjadikan warga negara; pewarganegaraan yg diperoleh setelah memenuhi syarat sebagaimana yg ditetapkan dl peraturan perundang-undangan; atau arti lainnya yang berhubungan dengan biologi: gejala terjadinya penyesuaian diri tumbuhan yg didatangkan dr tempat lain dan menjadi anggota biasa masyarakat tumbuhan di tempat yg baru itu.

Kata ini berdiri sendiri, bukanlah kata ‘natural’ yang diberi tambahan ‘isasi’, meski memang secara makna bisa saja dihubung-hubungkan, apalagi jika berkaitan dengan masalah arti biologinya. Mari kita lihat arti kata ‘natural’: 1 bersifat alam; alamiah; 2 bebas dr pengaruh; bukan buatan; asli; 3 dapat dipakai untuk warna apa saja (tt semir dsb). Mungkin juga orang asing yang dinaturalisasi maksudnya orang itu dibuat atau diproses jadi orang Indonesia asli dengan dibuatkan kewarganegaraan Indonesia, hehe…

Pada kenyataannya kata ini adalah hasil proses “naturalisasi” dari istilah english ‘naturalization‘ yang kata dasarnya ‘naturalize‘ yang menurut Cambridge Dictionaries berarti: to make someone a legal citizen of a country that they were not born in.

Jadi, jelaslah sudah asal-muasal istilah naturalisasi yang sedang laris-manis dipakai oleh banyak kalangan. Semoga orang-orang yang mengalami naturalisasi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) adalah insan yang benar-benar berguna bagi bangsa dan negara, aamiin. Sekian. :D

*foto ditaut dari vivanews.com

Nop
14

asean - bhspls

Menjelang giliran Indonesia menjadi ketua ASEAN (Association of Southeast Asia Nations), dan juga target pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015, pihak Kementerian Luar Negeri RI mulai melakukan sosialisasi kepada berbagai elemen masyarakat, salah satunya adalah komunitas para narablog atau blogger. Singkat cerita, Bahasa, please! menyempatkan diri untuk datang di salah satu acara sosialisasi tersebut yang bekerjasama dengan Blogger Bekasi, diadakan di Hotel Horison, Bekasi, pada bulan Agustus 2010 lalu.

Tentu pertanyaannya, apa hubungannya sebuah blog yang membahas tentang bahasa bisa ikut-ikutan ngebahas masalah politik luar negeri? Panjang sih kalau mau ditulis pembenarannya, tapi bukankah politik luar negeri bisa berlangsung karena adanya komunikasi? Bukankah komunikasi bisa berlangsung karena adanya bahasa?

Selama ini negara-negara di kawasan ASEAN selalu menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, bisa jadi juga hal ini karena beberapa negara ASEAN adalah negara Persemakmuran, yaitu kelompok negara-negara bekas jajahan Inggris Raya seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Dua negara lainnya yang merupakan sekutu Amerika Serikat (Filipina & Thailand) juga pasti akan senang jika menggunakan bahasa Inggris.

Bagaimana jika ASEAN punya bahasa resmi di luar English? Jika memang ada, tentunya akan memberi nilai lebih serta kebanggaan sebagai “bangsa” Asia Tenggara. Lalu, bahasa apa yang layak dijadikan Bahasa ASEAN (lingua franca)? Bahasa Indonesia mungkin adalah kandidat utamanya karena jumlah pemakai resminya di atas 100 juta orang (menurut Ethnologue 260 juta), sedangkan bahasa Melayu hanya dipakai resmi di Malaysia dengan penduduk sekitar 27 juta, dan Brunei yang kurang dari 400 ribu orang, plus sebagian dari 4 jutaan penduduk Singapura.

Sebagai warga Indonesia kita harus bangga jika Bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa resmi ASEAN, tapi tentunya tidak mudah untuk menuju ke sana. Meskipun sebenarnya yang harus kita lakukan bisa jadi sangatlah mudah. Contoh sederhana adalah ketika kita menulis status dalam bahasa Indonesia di Facebook atau Twitter misalnya, meski untuk berkomunikasi dengan teman warga asing tetap menggunakan english.

Contoh lain ketika banyak yang menggunakan kalimat “pray for Indonesia” ketika terjadi bencana kemarin. Padahal jika kita menggunakan “doa untuk Indonesia” akan lebih membumi, dan jika terbaca hingga lintas negara mereka akan berusaha mencari tahu apa itu artinya, dan ini sangat membantu perkembangan bahasa kita di dunia internasional. Saat ini bahasa Indonesia berada di urutan 7 dunia dari banyaknya jumlah penuturnya, jadi wajar jika menjadi bahasa resmi ASEAN setelah english, atau sebaliknya? J [b\w]

Sep
07


“Si mbak pulkam terpaksa nyari infal…” begitu tulis salah seorang ibu rumah tangga di status Facebook-nya. Ia sedang bercerita tentang kondisi di mana Pembantu Rumah Tangganya (PRT) yang dipanggil ’si mbak’ itu akan berlebaran di kampung halaman (pulang kampung -pulkam), yang akhirnya memaksa dia harus mencari tenaga PRT pengganti yang bersifat sementara yang kini populer dengan sebutan infal.

Infal juga bisa berarti seorang ibu rumah tangga yang akhirnya pasrah bekerja mengurus rumah tangganya sendiri, atau seorang suami yang akhirnya bekerja mengurus rumah tangga, karena PRT sedang pulkam, dan mereka tidak berusaha mencari penggantinya. Singkat kata mereka jadi meng-infal-kan diri sendiri lah, dan ‘infal’ pun mengalami perluasan makna.

Memangnya kata infal itu arti resminya apa ya? Karena kita tak akan menemukan arti kata ‘infal’ di KBBI Daring. Mungkinkah merupakan kata serapan asing? Dalam english kita akan temukan kata ‘infallible‘ yang artinya: mutlak, sempurna. Atau ‘infallibility’ yang artinya: keadaan tak dapat berbuat kesalahan atau kekeliruan. Mungkin juga dari kata ‘invalid‘ (tak berdaya, sakit, cacat, tidak sah), ‘invalidation‘ (tidak valid), atau ‘invaluable‘ yang berarti: tak terhingga nilainya, karena memang “gaji” seorang infal jauh lebih besar dari gaji PRT biasa?

Sampai di sini belum ketemu asal katanya yang punya arti cocok. Bagaimana kalau kita ke Nederland, karena banyak juga kata-kata Indonesia yang diambil dari bahasa Belanda. Ditemukanlah kata ‘inval‘ yang berarti: penggerebekan, penyerbuan, serbuan. Nah loh, makin jauh aja artinya dari istilah infal yang sekarang. Sepertinya perlu tim peneliti khusus nih untuk mencari silsilahnya si infal ini, atau mungkin perlu digelar seminar sehari untuk membahasnya?

Udah ah, lebay, yang penting kan sekarang bahasa kita jadi tambah perbendaharaan kata. Mau itu asalnya dari bahasa Inggris, Belanda atau mungkin Arab, yang jelas kita secara tidak langsung telah sepakat jika menemukan kata infal berarti merupakan istilah atau sebutan bagi orang yang bekerja sebagai PRT pengganti untuk sementara waktu. Oke? Selamat Lebaran dan menjadi infal, eh… anu… maksudnya mencari infal. :D [b\w]

Jul
23

pintudarurat

Salah satu contoh yang baik, di mana Bahasa Indonesia didahulukan sebelum bahasa asing (English). Masih banyak di negeri ini yang membuat papan petunjuk atau semacamnya yang lebih mendahulukan bahasa asing, sementara bahasa Indonesia setelahnya, atau memakai bahasa campuran yang tidak jelas maksudnya.

Namun dalam memakai bahasa asing perlu juga diketahui aturan-aturan dalam bahasa tersebut, atau kebiasaan yang digunakannya. Dalam kasus di atas, pemakaian “EMERGENCY DOOR” sepertinya kurang lazim dibanding kalimat “EMERGENCY EXIT”. Memang jika merujuk pada arti “PINTU DARURAT” sangatlah tepat. Tapi entahlah, karena di sini zona Bahasa Indonesia, jadi kami tidak bertanggung jawab terhadap keselamatan bahasa Inggris tersebut, hehe…